Jelang Olimpiade, Tim Indonesia Dituntut Cepat Adaptasi Atasi Prokes Ketat

Kepala pelatih ganda campuran Indonesia, Richard mainaky (tengah) bersama pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. (Foto: PP PBSI)
Kepala pelatih ganda campuran Indonesia, Richard mainaky (tengah) bersama pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. (Foto: PP PBSI)
Nasional ‐ Created by Bimo Tegar

Jakarta | Mengingat masih dalam kondisi pandemi, protokol kesehatan (Prokes) menjadi salah satu faktor penting yang harus ditaati seluruh pihak, tak terkecuali atlet. Jelang perhelatan akbar Olimpiade Tokyo 2020 yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2021 mendatang, para atlet, pelatih serta tim ofisial, tidak hanya harus mematangkan persiapan teknis maupun non-teknis, tapi juga dituntut untuk cepat beradaptasi dengan prokes ketat yang nantinya bakal diterapkan tuan rumah penyelenggara.

Persiapan jelang Olimpiade Tokyo 2020 nanti jelas akan berbeda jika dibandingkan dengan Olimpiade sebelumnya di Rio de Janeiro 2016 lalu. Saat itu, sebelum terbang ke Brasil, para pemain yang lolos ke Olimpiade melakukan training camp (TC) selama dua pekan di markas PB Djarum Kudus, Jawa Tengah.

“Dulu persiapan seperti itu bisa sangat matang sekali. Kalau sekarang, dengan ada beberapa perubahan jadwal, harus disesuaikan lagi rencananya,” kata Kepala Pelatih Ganda Campuran Indonesia, Richard Mainaky dilansir Jawapos.com.

Untuk persiapan tahun ini, kemungkian tim bulutangkis Indonesia untuk menjalani TC di Kudus sangatlah kecil. Apalagi menyusul adanya regulasi pembatasan protokol kesehatan. “Ada rencana juga di pelatnas akan dibuat sistem seperti saat di Thailand yang lalu. Karena dilihat ke depan semua turnamen juga akan begitu. Termasuk Olimpiade yang pastinya bakal lebih ketat,” tuturnya.

Jika tetap memaksimalkan TC di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Richard mangatakan bahwa pemain akan lebih terbiasa. Seperti ruang makan terpisah per sektor, jarak duduk yang di atur agar tidak berdekatan, hingga interaksi antar pemain dibatasi.

“Saat di Thailand, tiga minggu bisa. Harusnya, jika diterapkan di sini selama TC, saya rasa tidak ada masalah. Karena pastinya saat Olimpiade protokolnya lebih keras lagi,” tandasnya.