Pengajar di Sekolah Negeri, Penengah di Olimpiade

Qomarul Lailiah (Foto: BADMINTONPHOTO/Yves Lacroix)
Qomarul Lailiah (Foto: BADMINTONPHOTO/Yves Lacroix)
Nasional ‐ Created by EL

Jakarta | Qomarul Lailiah dan Wahyana menjadi buah bibir dalam sepekan terakhir. Ragam media massa bahkan menempatkan nama mereka di kepala berita, setelah dua orang Indonesia ini menuntaskan tugas selaku wasit bulu tangkis di Olimpiade Tokyo 2020. Keduanya adalah guru yang dedikasinya diapresiasi pemerintah, salah satunya dinyatakan melalui unggahan akun Instagram Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Lia --sapaan karib Qomarul--, mulanya, tidak tertarik menjadi wasit lantaran tidak memahami bulu tangkis. Setelah mengantongi bekal cukup banyak pengetahuan, guru SDN Sawunggaling 1, Surabaya ini kepincut juga untuk mencoba ikut pelatihan dan menjalani ujian tingkat provinsi. Setelah dinyatakan lulus, karier barunya sebagai wasit penuh rintangan. Tak sedikit pula cemoohan tertuju pada Lia atas keputusan yang diambilnya.

"Sampai para pemain berteriak kok begitu wasitnya? Ada yang bilang ini wasit lulusan mana harus sekolah wasit lagi. Lalu dengan tetap optimis saya terus belajar hingga saya terus membaca buku berjudul Law of Badminton. Dan buku itu memang segala aturan dan instruksi dalam bahasa Inggris," jelas Lia, dikutip dari situs resmi Pemerintah Kota Surabaya.

Wanita kelahiran kelahiran Surabaya pada 24 September 1977 ini terus berjuang dan dipercaya menjadi wasit di berbagai kejuaraan bulu tangkis. Uniknya, seluruh ilmu yang didapat dari bulu tangkis, juga diimplementasikan di sekolah tempatnya mengajar. Tiga poin penting dari bulu tangkis yang menurutnya sejalan dengan penerapan pendidikan di tingkat sekolah dasar, yakni disiplin, percaya diri, dan pantang menyerah.

"Ternyata itu betul-betul terjadi, ketika kita menerapkan tiga hal itu akan memudahkan kita mencapai banyak hal. Makanya saya ajarkan kepada anak didik saya sedini mungkin," kata Lia.

Sementara, Wahyana, adalah guru olahraga di SMPN 4 Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta. Mantan wakil kepala sekolah ini adalah wasit salah satu partai puncak final bulu tangkis Tokyo 2020. "Alhamdulillah, saya merupakan satu-satunya dari Indonesia yang dipercaya untuk memimpin jalannya pertandingan tim tunggal putri dalam memperebutkan medali emas," tutur warga Sidomulyo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman Yogyakarta ini, kepada Kompas.com.

"Tentu ada sebuah kebanggaan tersendiri, sebab dalam final itu hanya dicari wasit terbaik dari seluruh yang ada," Wahyana menambahkan.

Pria berusia 53 tahun juga berharap kemunculan wasit-wasit bulu tangkis asal Indonesia yang dapat berkiprah di pertandingan-pertandingan internasional. Wahyana telah memiliki program untuk mencetak wasit muda dari seluruh Indonesia. "Banyak sebenarnya yang minat, tapi bahasa menjadi kendalanya. Saat ini kami merekrut yang memiliki basic bahasa Inggris dulu," katanya, dilansir detik.com.

Atas pengabdian dua wasit kelas dunia ini, Nadiem mengucapkan terima kasih melalui jejaring sosial Instagram. Setelah pelajar, menurut sang menteri, kini giliran sosok guru yang berprestasi di ajang olah raga dunia. "Terima kasih atas pengabdian Bapak Wahyana dan Ibu Lia yang berhasil menembus Olimpiade Tokyo 2020 sebagai wasit cabang bulu tangkis. Ibu dan Bapak adalah inspirasi kami untuk terus berkontribusi mengharumkan nama Indonesia. Maju terus untuk guru-guru Indonesia!" tulisnya.